Rabu, 07 Februari 2018

Ombak

Diombak kusut masai
perahu remuk, seperti menggapai
lalu menyerah
angin ribut
angin ribut
angin ribut
tanpa layar dayung terhanyut





Senin, 05 Februari 2018

Berbahagia



aku ingin mencintaimu dengan berbahagia
dengan kesadaran bahwa ada yang telah dicuri
dari hatiku yang tak kembali yang mungkin
takkan mampu kau lengkapi, tetapi kau
ada disana, entah dengan cara apa bersedia

aku hanya ingin engkau berbahagia
menjadi kekasihku, lelaki remuk redam,
compang-camping, penuh luka dan dendam
sebab ada yang hanya ingin disembuhkan
bukan diremukkan lebih lagi dari pasir

aku mencintaimu dengan berbahagia
dan ingin engkau berbahagia
sebab akupun ingin berbahagia
dapatkah aku berbahagia? dapatkan aku mencintaimu?

Rabu, 20 Desember 2017

Tembok Tua

ada sebuah tembok
tua entah untuk apa
yang catnya mengelupas
yang makin mengering
runtuh menjadi serpih
di bawah atapnya
rumah tua, makin menua
rapuh luruh diterkam akar sirih

untuk dilupakan
selalu untuk dilupakan

Selasa, 19 Desember 2017

Senjakala

Adakalanya senja terlewatkan begitu saja
seperti pekerjaan di ruang kantor
atau segala sesuatu yang terjadi di dalam rumah
menjadi sebuah kata benda yang begitu biasa
seperti mandi sore atau ongkos bus kota
yang datar dan panas -- aspal jalan
jalan panjang tubuh letih muka lengket

Adakalanya anak manusia mesti ada
tuk mengingini tiada, penderitaan, makna

Night Call

Ketika malam memanggilmu
malam begitu muda dan lugu
seperti merayu, ya manisku
Langit terbentang bola kaca hitam
kakiku begitu pendek
bekerja seharian merobohkan tubuhku
satu kemungkinan, satu saja
selamat tinggal

Rabu, 06 Desember 2017

Catatan Desember

Ini adalah awal pada sebuah hari di musim hujan. Desember, berapa lama waktu berselang: tak perlu kuhitung, kurasa. Hidup berjalan, waktupun turut. Tunas-tunas tumbuh berbasah embun seperti selamat pagi. Tahun berselang dan akan berganti. Kutahu aku tak sama lagi.

Desember, desember, desember.

Selasa, 23 Mei 2017

Banyak Simpang, Kota Tua: Melankolia (Dorothea Rosa Herliany)

Banyak Simpang, Kota Tua: Melankolia
Oleh :
Dorothea Rosa Herliany
1.
selalu, setiap perjalanan keluhkesah itu
kau tak ingin sampai, di atas andong kau
bertanya siapa di antara kita kusirnya
kau tak ingin sampai, di setiap tikungan
membaca arah angin dan namanama gang.
orangorang, selalu seperti memulai hari
berangkat dan pulang, bergegas, dan entah siapa
memburu dan siapa diburu.
kita pun melangkah di antara perjalanan keluhkesah.
dan selalu gagal membaca arah.
2.
ada yang selalu mengantarmu ke segenap arah,
desa demi desa, tapi akhirnya
kau hanya sendiri di atas catatan duka
di deretan hari, mengapa selalu kau buka buku harian
:sebab katamu, kenangan itu racun.
hari ini aku melihat wajahmu
seperti patungpatung gerabah di Kasongan.
lalu hatiku tertawa, mengejek kenyataan hidup.
sebab masa lalu itu racun, dan kita
bersenangsenang atas kesedihan hari ini.
maka, jika rindu, pulang saja ke hotel, dan gambarlah
rumah dan hirukpikuk kotamu yang angkuh.
3.
kutunggu engkau di stasiun, beberapa jam usiaku hilang,
kutunggu sepanjang rel dan bangkubangku yang bisu.
kuingin Yogya, untuk seluruh waktu senggangmu,
sebab hidup mesti dihitung dan setiap tetes keringat
dan untuk itulah aku menanggalkan detik demi detik usiaku?
kutunggu engkau di stasiun, hingga detik menjadi tahun.
4.
kukira Joan Sutherland dan Mozart dalam Die Zauberflote.
tapi seorang perempuan kecil meminta sekeping uang logam,
dan menyanyikan kesedihan yang membeku di matahari terik
dan aspal membara,
tak selesai, ya, memang tak pernah selesai.
hanya mulutnya yang bergerakgerak di luar kaca
dan suara mencekam Sutherland.
Yogya semakin tua, dan dimanamana kudengar
ceritacerita kesedihan.
tapi di pasar Ngasem, engkau bisa membeli
seekor burung yang tak henti berkicau,
dan menjadi begitu pendiam saat kaubawa pulang.
5.
sebuah surat kutemukan di Malioboro,
tampaknya seorang gadis telah patah hati,
dan mencari kekasihnya di etalaseetalase
dan di antara tumpukan barangbarang kaki lima,
tak kutemu, di seluruh sudut kota ini pun tak ada
bayangbayang kekasih itu.
kutemukan surat itu, dan kukirimkan kembali
entah ke mana, suatu hari kau menemuiku,
dan membawa segenggam surat hitam: tak beralamat,
tapi kau tak pernah membacanya,
dan aku menulis kembali surat demi surat tak beralamat
dan tak kukirim ke manapun.
6.
rindu kadang menyakitkan
tapi apa yang disembunyikan kota lama ini?
seseorang tak ingin pergi
dan membangun sebuah rumahsiput.
seseorang tak ingin pergi
dan mencatat berderet peristiwa
untuk menjadikannya hanya kenangan.
Yogya, 1999

Museum Masa Depan yang Tak Pernah Ada

( setelah Baudrillard dan sebelum lupa ) Anak-anak berjalan ke dalam hutan yang disusun dari piksel dan janji manis algoritma. Pohon-pohon...