ada sebuah tembok
tua entah untuk apa
yang catnya mengelupas
yang makin mengering
runtuh menjadi serpih
di bawah atapnya
rumah tua, makin menua
rapuh luruh diterkam akar sirih
untuk dilupakan
selalu untuk dilupakan
Rabu, 20 Desember 2017
Selasa, 19 Desember 2017
Senjakala
Adakalanya senja terlewatkan begitu saja
seperti pekerjaan di ruang kantor
atau segala sesuatu yang terjadi di dalam rumah
menjadi sebuah kata benda yang begitu biasa
seperti mandi sore atau ongkos bus kota
yang datar dan panas -- aspal jalan
jalan panjang tubuh letih muka lengket
Adakalanya anak manusia mesti ada
tuk mengingini tiada, penderitaan, makna
yang datar dan panas -- aspal jalan
jalan panjang tubuh letih muka lengket
Adakalanya anak manusia mesti ada
tuk mengingini tiada, penderitaan, makna
Night Call
Ketika malam memanggilmu
malam begitu muda dan lugu
seperti merayu, ya manisku
Langit terbentang bola kaca hitam
kakiku begitu pendek
bekerja seharian merobohkan tubuhku
satu kemungkinan, satu saja
selamat tinggal
malam begitu muda dan lugu
seperti merayu, ya manisku
Langit terbentang bola kaca hitam
kakiku begitu pendek
bekerja seharian merobohkan tubuhku
satu kemungkinan, satu saja
selamat tinggal
Rabu, 06 Desember 2017
Catatan Desember
Ini adalah awal pada sebuah hari di musim hujan. Desember, berapa lama waktu berselang: tak perlu kuhitung, kurasa. Hidup berjalan, waktupun turut. Tunas-tunas tumbuh berbasah embun seperti selamat pagi. Tahun berselang dan akan berganti. Kutahu aku tak sama lagi.
Desember, desember, desember.
Desember, desember, desember.
Selasa, 23 Mei 2017
Banyak Simpang, Kota Tua: Melankolia (Dorothea Rosa Herliany)
Banyak Simpang, Kota Tua: Melankolia
Oleh :
Dorothea Rosa Herliany
Oleh :
Dorothea Rosa Herliany
1.
selalu, setiap perjalanan keluhkesah itu
kau tak ingin sampai, di atas andong kau
bertanya siapa di antara kita kusirnya
kau tak ingin sampai, di setiap tikungan
membaca arah angin dan namanama gang.
kau tak ingin sampai, di atas andong kau
bertanya siapa di antara kita kusirnya
kau tak ingin sampai, di setiap tikungan
membaca arah angin dan namanama gang.
orangorang, selalu seperti memulai hari
berangkat dan pulang, bergegas, dan entah siapa
memburu dan siapa diburu.
kita pun melangkah di antara perjalanan keluhkesah.
dan selalu gagal membaca arah.
berangkat dan pulang, bergegas, dan entah siapa
memburu dan siapa diburu.
kita pun melangkah di antara perjalanan keluhkesah.
dan selalu gagal membaca arah.
2.
ada yang selalu mengantarmu ke segenap arah,
desa demi desa, tapi akhirnya
kau hanya sendiri di atas catatan duka
di deretan hari, mengapa selalu kau buka buku harian
:sebab katamu, kenangan itu racun.
hari ini aku melihat wajahmu
seperti patungpatung gerabah di Kasongan.
lalu hatiku tertawa, mengejek kenyataan hidup.
sebab masa lalu itu racun, dan kita
bersenangsenang atas kesedihan hari ini.
maka, jika rindu, pulang saja ke hotel, dan gambarlah
rumah dan hirukpikuk kotamu yang angkuh.
desa demi desa, tapi akhirnya
kau hanya sendiri di atas catatan duka
di deretan hari, mengapa selalu kau buka buku harian
:sebab katamu, kenangan itu racun.
hari ini aku melihat wajahmu
seperti patungpatung gerabah di Kasongan.
lalu hatiku tertawa, mengejek kenyataan hidup.
sebab masa lalu itu racun, dan kita
bersenangsenang atas kesedihan hari ini.
maka, jika rindu, pulang saja ke hotel, dan gambarlah
rumah dan hirukpikuk kotamu yang angkuh.
3.
kutunggu engkau di stasiun, beberapa jam usiaku hilang,
kutunggu sepanjang rel dan bangkubangku yang bisu.
kuingin Yogya, untuk seluruh waktu senggangmu,
sebab hidup mesti dihitung dan setiap tetes keringat
dan untuk itulah aku menanggalkan detik demi detik usiaku?
kutunggu engkau di stasiun, hingga detik menjadi tahun.
kutunggu sepanjang rel dan bangkubangku yang bisu.
kuingin Yogya, untuk seluruh waktu senggangmu,
sebab hidup mesti dihitung dan setiap tetes keringat
dan untuk itulah aku menanggalkan detik demi detik usiaku?
kutunggu engkau di stasiun, hingga detik menjadi tahun.
4.
kukira Joan Sutherland dan Mozart dalam Die Zauberflote.
tapi seorang perempuan kecil meminta sekeping uang logam,
dan menyanyikan kesedihan yang membeku di matahari terik
dan aspal membara,
tak selesai, ya, memang tak pernah selesai.
hanya mulutnya yang bergerakgerak di luar kaca
dan suara mencekam Sutherland.
Yogya semakin tua, dan dimanamana kudengar
ceritacerita kesedihan.
tapi di pasar Ngasem, engkau bisa membeli
seekor burung yang tak henti berkicau,
dan menjadi begitu pendiam saat kaubawa pulang.
tapi seorang perempuan kecil meminta sekeping uang logam,
dan menyanyikan kesedihan yang membeku di matahari terik
dan aspal membara,
tak selesai, ya, memang tak pernah selesai.
hanya mulutnya yang bergerakgerak di luar kaca
dan suara mencekam Sutherland.
Yogya semakin tua, dan dimanamana kudengar
ceritacerita kesedihan.
tapi di pasar Ngasem, engkau bisa membeli
seekor burung yang tak henti berkicau,
dan menjadi begitu pendiam saat kaubawa pulang.
5.
sebuah surat kutemukan di Malioboro,
tampaknya seorang gadis telah patah hati,
dan mencari kekasihnya di etalaseetalase
dan di antara tumpukan barangbarang kaki lima,
tak kutemu, di seluruh sudut kota ini pun tak ada
bayangbayang kekasih itu.
kutemukan surat itu, dan kukirimkan kembali
entah ke mana, suatu hari kau menemuiku,
dan membawa segenggam surat hitam: tak beralamat,
tapi kau tak pernah membacanya,
dan aku menulis kembali surat demi surat tak beralamat
dan tak kukirim ke manapun.
tampaknya seorang gadis telah patah hati,
dan mencari kekasihnya di etalaseetalase
dan di antara tumpukan barangbarang kaki lima,
tak kutemu, di seluruh sudut kota ini pun tak ada
bayangbayang kekasih itu.
kutemukan surat itu, dan kukirimkan kembali
entah ke mana, suatu hari kau menemuiku,
dan membawa segenggam surat hitam: tak beralamat,
tapi kau tak pernah membacanya,
dan aku menulis kembali surat demi surat tak beralamat
dan tak kukirim ke manapun.
6.
rindu kadang menyakitkan
tapi apa yang disembunyikan kota lama ini?
seseorang tak ingin pergi
dan membangun sebuah rumahsiput.
seseorang tak ingin pergi
dan mencatat berderet peristiwa
untuk menjadikannya hanya kenangan.
tapi apa yang disembunyikan kota lama ini?
seseorang tak ingin pergi
dan membangun sebuah rumahsiput.
seseorang tak ingin pergi
dan mencatat berderet peristiwa
untuk menjadikannya hanya kenangan.
Yogya, 1999
Semesta Luka (Dorothea Rosa Herliany)
SEMESTA LUKA
matahari menghitung sendiri luka yang kucuri
setiap pagi. pedihnya mengirimkan ribuan cahaya
yang merajam tubuhwaktu. aku tak mampu menuliskan kesedihan
itu ajal demi ajal yang selalu tiba-tiba.
aku terkurung dan tak bisa melompat lewat
sejuta pintu terbuka
segugus galaksi menangkap airmata matahari
bintang dan ribuan planet memburu detakjantung
sepinya. kutanam tunas cintaku. berapa ratus milyar
depa lagikah kubutuhkan untuk membalut perihnya?
sementara janinku membesarkan matahari lain.
ayahnya ribuan penjagal waktu. ia menunggu
semua pintu dan jendela. tak ia inginkan
tangis pertamanya meninggakan ruang luka.
bayi itu lahir. kita menuliskan sejarah
dalam abad bencana!
Berlin, 2003
(sumber: buku SANTA ROSA [SAINT ROSA], Dorothea Rosa Herliany poems, Penerbit Indonesia Tera, edisi kedua, November 2006)
Kota Bawah Tanah (Dorothea Rosa Herliany)
KOTA BAWAH TANAH
tubuh siapakah melukis gelap.
melubangi cahaya dalam terowongan,
menuju petabuta.
para pejalan menanti sejutamil jarak mengkerut.
dalam perjalanan matahari membeku.
para pemahat merias wajah kota yang terkubur.
di bawah tanah terkutuk.
tubuh siapakah, perempuan yang menangis,
ibu yang kesepian,mengukir abad lelaki,
di lorong-lorong peradaban penuh dendam.
Athena, 2003
Langganan:
Postingan (Atom)
Museum Masa Depan yang Tak Pernah Ada
( setelah Baudrillard dan sebelum lupa ) Anak-anak berjalan ke dalam hutan yang disusun dari piksel dan janji manis algoritma. Pohon-pohon...
-
IBADAH SEPANJANG USIA kalimatkalimat yang kauucapkan berguguran dalam sahadatku. inilah kidung yang digumamkan! berapa putaran dalam se...
-
Pertama kali mendengan tentang ikan Ronga dari teman kerja, rasa penasaran
-
Sejarah Patah Rantingku patah Nyaris dahanku rebah Tentang daun daun yang kau jarah Biar menjadi sejarah