Senin, 08 Februari 2016

Negeri Terumbu Biru - Bagian Keenam

Negeri Terumbu Biru
Oleh: Meob
Bagiaan Keenam

***
Semarang dan kehilangan
kebenaran yang dikotil diantara koktil
Diatas meja bundar sebuah pesta
kartu-kartu terbuka, dan kini aku yang bicara:
Sekarang kau lihatkan?
***

Semarang, kota yang asing bagi kami berdua. Seingatku beberapa tahun lalu Lastri pernah kesini untuk mengikuti test masuk karyawan sebuah bank negara, tapi kemudian gagal. Aku ingat karena pada saat itulah pertama kali aku bicara dengan ibunya meski lewat telepon. Saat itu aku takut tapi penasaran, bagaimana suara perempuan yang melahirkan perempuanku. Apakah mirip? Apakah ia menyambutku dengan ramah? Basa-basi atau bagaimana? Rasanya bercampur. Walau pada akhirnya seperti basa-basi yang ramah, aku senang sekali. Mungkin perasaan gentlemen atau semacamnya yang sulit kukatakan.

Dari dalam taksi kulihat bangunan Lawang Sewu yang ternyata tidak sebesar yang kubayangkan, lalu menyusuri Simpang Lima yang ternyata juga biasa saja. Agak macet, sepertinya ada hajatan dari kepolisian karena kulihat tenda-tenda bergaris biru putih dan banyaknya penjagaan polisi di kawasan ini. Belakangan setelah melewati beberapa gedung pemerintahan dan bank-bank besar, aku sadar bahwa kawasan ini adalah kawasan administratif bukan downtown dari Semarang.

Kami sampai di hotel tempat dia menginap bersama rombongan kantornya hanya beberapa menit kemudian, rupanya tidak jauh dari Simpang Lima. Kupikir nanti kami bisa berjalan kaki kesana berdua, tapi dia menolak karena kemungkinan besar hujan dan lagipula nanti sebentar lagi kami akan pergi ke pesta pernikahan Nana dan Ruben.

Oh, tiba-tiba perutku agak mulas mendengar rencana ini (yang sebenarnya sudah ia katakan berulang kali sebelumnya. Berulang-ulang-ulang-ulang kali bahkan).

Pasalnya inilah kali pertamanya aku akan dikenalkan kepada teman-teman kantornya. Entah bagaimana aku harus bersikap nanti, yang kurasakan sekarang adalah serupa perasaan seekor Siamang Hitam di kebun binatang. Apa teman-temannya nanti akan melempariku dengan kacang? Aku harap tidak.

***
Di kursi lobby hotel kecil ini aku menunggu dengan tidak nyaman. Kulihat beberapa orang keluar-masuk dan naik-turun tangga. Mungkin ini teman-temannya, sialan penampilan yang laki-laki bagus. Tinggi, kulitnya bersih dan cerah, rambutnya pun model terbaru. Saat ini yang aku tidak ingin melihat cermin, bisa-bisa nanti aku tak sanggup berdiri.

Kemudian ada yang datang membawa mobil, sedang sepeda motorpun aku tak punya. Dari Makassar aku hanya sanggup sampai Surabaya karena tiket langsung Semarang hampir dua kali. Menuju Semarangpun aku hanya menumpang bus ekonomi legendaris Sumber Kencono yang larinya secepat Ferari.

Tapi kupikir buat apa aku malu, toh aku begini adanya. Tetapi rupanya berpikir demikian tidak juga membuatku takut dilempari kacang.

Lalu kulihat lelaki berwajah keturunan mengantar seorang perempuan ke hotel ini, sepertinya sepasang kekasih juga. Perempuan itu naik ke atas meninggalkan sang pacar dibawah. Dia melihat ke arahku, agak kaku duduk di sampingku.

“Dari Triakarya juga?”

“Bukan, pacar saya yang dari Triakarya”

“Oh sama, sama-sama menunggu..hahaha”

“Iya, kenalkan saya Radit”

“Oh, Kristian..pacarnya Mas yang mana?”

Apa, “Mas?”. Baru saja aku serasa Siamang Hitam yang takut dilempari kacang, sekarang sudah ada yang membawakanku pisang. Aku mencoba berpikir kalau “Mas” adalah sopan-santun, tapi tak bisa kuhindari kenyataan bahwa wajahku memang lebih nampak dari usia sebenarnya. Terlalu banyak terpapar matahari, demikian alasan untuk menghibur hatiku sendiri.

“Lastri.”

“Oh ya pacar saya sering cerita, Ratri namanya.”

“Lastri sering menyebut nama itu.”

“Sering di curhati juga soal beratnya kerjaan mereka disana?.”

“Iya, masnya juga?.”

Aku tidak tahu apa yang harus kugunakan untuk membalas. Mungkin lebih tepatnya “koh”atau malahan “om”, dan bukan “mas”. Tapi aku masih berpikir soal sopan-santun, bukan wajah tua.
.
“Iya, sampai jam sembilan malam pulang. Kasihan, tapi saya juga sama sih.”

“Masnya kerja dimana?.”

“Smartfren.”

“Oh.”
“Kalo masnya?.”

Apa harus keceritakan bahwa pekerjaanku sehari-hari memancing ikan mujair, dan berjam-jam nonton DVD?. Aku sudah mulai kekenyangan dengan tambahan pisang yang ia bawa sampai berpikir jangan-jangan dilempari kacang itu lebih enak.

“Saya di Sulawesi Selatan.”

“Kerja apa disana mas? Batu bara?.”

Baiklah sekarang aku benar-benar kepingin dilempari kacang. Kupikir mengalihkan “apa” pada “dimana” akan melarikan sedikit pembicaraan pisang ini, tapi perasaan bahwa aku benar-benar Siamang Hitam makin kuat.

“Bukan, Galian C saja mas.”

“Wah gajinya besar itu biasanya, sampai niat jauh-jauh keluar pulau berpisah jarak dengan kekasih.”

(Siamang Hitam mulai mengguncang-guncang kandang)

“Berarti masnya lulusan Geologi ya?”

“Hahaha”

Huruf “G” dan “T” itu pada kenyataanya memiliki jarak 12 alphabet, angka yang sama antara natal tahun kemarin dan natal tahun depannya dalam hitungan bulan. Dekat?, Tidak!. Jauh dan berbeda sekali: Yang satu bicara tentang Bumi dan yang satu bicara tentang Tuhan, yang satu punya rumus “1+1=2” sedangkan satunya “1+1= Apa itu angka 1?”.

Sore ini aku seharusnya bahagia mendapat hadiah setandan pisang lengkap dengan pohon dan kebunnya, padahal semula aku kira hanya akan dilempari kacang.

***

Di meja makan bulat besar ini aku kembali duduk bersama Kristian dan Ratri. Sedang Lastri setia menggelayut di lenganku sedari tadi. Aku tidak tahu tepatnya: apakah ini gelayut manja atau seperti majikan yang mengajak anjingnya jalan-jalan sore hari. Kupikir aku terlalu grogi dan menjadi terlalu curiga. Seperti Kristian tadi, dia sama sekali tidak salah membawakanku pisang. Bagaimanapun juga dia hanya punya pisang, barangkali diapun takut dilempari kacang. Tetapi aku curiga dengan pasangan-pasangan disekeliling kami yang sedari tadi memandangi. Apa yang ditangan mereka? Apa kacang?.

“Ratri itu asasistenku, jadi percaya diri saja.”

Lastri tiba-tiba berbisik ditelingaku, aku tidak terlalu mendengar. Sesaat rasanya nikmat wangi nafasnya ditelingaku sebelum sebuah cubitan mendarat di pinggang dan Lastri mengulang kata-katanya.

“Sekertarisku, percaya diri saja.”

Tiba-tiba seorang pria yang lebih tua dariku menyodorkan tanggannya dari seberang meja. Dia baru saja datang bersama istrinya.

“Perkenalkan saya Wawan.”

“Radit, oh assistennya Lastri ya?”

Orang-orang tiba-tiba terdiam, aku tidak tahu apa yang terjadi. Mereka seperti terkejut, wajah si Wawan juga seperti terkejut. Apa senyumku ini salah? atau mereka ingin aku berteriak dan bergelantungan?.

“Maaf, pak Wawan ini manager bagian project Dit. Assistenku itu Lastri, kamu ini tidak memperhatikan.”

Lastri memotong keheningan itu, lalu semua tersenyum geli berbalik aku yang terkejut malu.

“Maaf Pak Wawan, saya bingung dikenalkan begitu banyak orang. Jadi serba keliru mengenali.”

“Tidak apa-apa mas Radit, kita juga baru bertemu.”

Baiklah, semua kembali membaik. Kecuali perempuan disampingku, hawa dinginnya mulai terasa di kulitku.

***

Rupanya begini acara pernikahan di kota besar, seperti sebuah show. Pembawa acaranya pandai membawa suasana, tadi ada penari, dan acara-acara tuang minuman. Berbeda sekali dengan kondangan acara pernikahan di site tambang. Pakai baju kerja disela istirahat makan siang pun jadi.

Aku masih terpana dengan musik rakyat kecil bernama ca doleng-doleng  di Sulawesi Selatan. Berlangsung dari malam hingga nyaris dini hari. Dangdut remix, atau entah apa itu istilahnya. Tetapi sawerannya gila. Kadang diselipkan di bra, bahkan diselipkan di celana dalam sang biduan. Banyak yang bilang biduan kalau mabuk diberi minum, dia akan berdangdut ria diatas panggung tanpa busana. Tetapi aku tidak pernah lihat.

Di acara pernikahan ini sama, ada saweran. Ah buka, tetapi amplop tanda terimakasih dari tuan rumah pemilik acara pada tiap pengisi. Baru saja aku terkagum melihat seorang lelaki keturunan memainkan alat musik gesek tradisional china. Aku lupa namanya, tetapi suaranya meningatkanku pada soundtrack film-film kungfu.

“Mas Radit sepertinya menikmati sekali acara.”

Tiba-tiba Wawan memecah lamunanku. Mungkin ia ingin membuka pembicaraan setelah momen memalukanku tadi.

“Iya, saya baru pertama melihat alat musik gesek tadi. Bagus sekali, ahli yang main.”

“Suka musik?.”

“Ya Pak, bapak juga?.”

“Saya suka, tapi terlalu sibuk di Triakarya.”

Aku tidak paham kemana arah pembicaraan ini. Aku pun tidak berani menatap Lastri, takut dikira meminta bantuan. Hal begini harus dihadapi lelaki, kurasa begitu.

“Waktu saya luang sekali pak. Jadi sering mendengar musik untuk mengisi waktu.”

“Oh, tidak banyak meeting begitu?.”

“Kalau saya meeting­-meeting­ melulu, kapan lantai hotel jadi pak.”

“Jadi supply hotel juga?.”

“Iya pak.”

“Kemana saja.”

“Kemana saja sejauh owner sanggup beli pak.”

“Mahal?”

“Oh tidak sebenarnya, hanya marmer Indonesia sering diaku sebagai marmer impor. Begitu kan mental kita, tergila-gila dengan apapun yang dari luar. Tetapi begitu bodoh ditipu, padahal barang sendiri.”

“Kalau ekspor kemana, China?”

“Ya, termasuk Korea dan Jepang.”

“China barang-barangnya jelek.”

“Tapi mereka berhasil membuat banyak tiruan yang nyaris seperti aslinya. Ini seperti jam tangan saya ini, beratnya dan mesin-mesinnya nyaris sama dengan yang asli. Sulit dibedakan.”
Kulepas jam tanganku dan kuberikan pada Wawan. Dia menimbang-nimbang jam tangan itu ditangannya.

“Sulitkan pak bila sekilas mata dipakai diacara pernikahan semacam ini.”

“Iya, tetapi kenapa dibeli kalau palsu?.”

“Oleh-oleh kunjungan kerja teman ke pabrik pengolahan disana.”

Wawan kembali menyerahkan jamku tadi. Kulihat dia kemudian berusaha menyembunyikan tanggannya di bawah meja. Lastri juga melihat, dan pasti mendengar dengan amat sangat pembicaraan ini.

Acara selesai, kami bergantian berdiri menuju pintu keluar. Kugenggam tangan Lastri, lalu kubisikkan ketelinganya,

“Apa hadiah untukku?”

Dia cuma menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Kurasa kapan-kapan aku siap dilempari kacang.




(Bersambung)

Negeri Terumbu Biru - Bagian Kelima

Negeri Terumbu Biru
Oleh: Meob
Bagian Kelima

***
Tentang waktu yang terbuang dan hari yang sendiri
ragu meluncur tajam pada hati yang diuji
Besi harus ditempa diatas api
demikian jati harus berdiri
***

Aku tak pernah mengira perempuan itu akan datang, sungguh. Setelah sekian lembar kata-kata yang tak pantas kuucapkan padanya di telepon. Dia ada disana, sungguh-sungguh disana bukan sebuah bayang yang biasanya. Dari tangga masuk terlihat rambutnya yang kuhapal betul, rupanya dia juga memakai jaket baru yang kemarin dulu dibelinya. Aku tidak dapat memastikan apakah ia masih marah dan datang untuk melampiaskan semuanya, atau tidak.

Aku menyesal, tapi apa yang harus kukatakan?, Permintaan maaf dan penyesalan?. Atau sebuah formalitas di awal semacam “ Hai, apa kabar? Kau kelihatan cantik hari ini.”?, begitu?.

Aku bingung, mungkin seperti inilah perasaan saat kelak dihadapan sang hakim kiamat: Kesalahan-kesalah kita disebut satu persatu, dan sang terdakwa hanya bisa memandangi dengan cemas loyang timbangan dosanya yang makin lama makin mendekat ke tanah. Putusan apa yang akan ia berikan: Surga atau Neraka?. Keringat dingin mengucur deras, sebab satu-satunya kenyataan adalah timbangan itu kini berat sebelah.

“Aku menyesal sayang” aku ingin mengatakan itu, tapi bibirku malah tersenyum.

Betapa sempurnanya kebodohan ini, darah dari kepalaku pergi berpindah tempat entah kemana. Sang terdakwa berkeringat dingin makin hebat. Mungkin ini saat yang lebih tepat untuk orkestra horor mengisi ruang kosong seperti dalam film-film yang diputar malam jumat. Apa yang akan terjadi?, penonton menunggu-nunggu suara teriakan pemeran utamanya. Tapi tidak ada teriakan terdengar, tak ada suara. Hanya ada sorot mata hakim memandangi sang terdakwa.

Ah tidak, aku seharusnya sadar bahwa perempuan itu pasti datang. Karena memang demikianlah alasanku mencintai dan mempertahankan hubunganku dengannya bertahun-tahun meski terpisah jarak. Hakim kiamat itu tidak akan membuatku menunggu, ia akan membuatku mengaku.

“Apa yang kau lihat?” tanya nyinyir sang hakim pada terdakwa sambil menunjuk pada timbangan dosa, ya seperti itulah sorot matamu saat kau melihatku datang padamu.

“Sebuah timbangan” jawab sang terdakwa, terlihat wajah kecewa sang hakim mendengar ini.

Sang hakim mungkin berharap sang terdakwa akan melihat pada dosa-dosanya dan berlinang air mata menceracap pengakuan dan air mata. Tapi aku tidak sepintar itu, padahal aku sudah menyadarinya tadi.
Tatapan perempuan itu selalu mampu membuatku seperti berada diruang kosong, melenyapkan segala pijakan dan sandaranku. Sayangnya dia hanya memandangiku saja, lebih tepatnya melirik dibalik kacamata berbingkai tebalnya. Dia membuatku sadar diruang kosong itu aku tak bisa kemana-mana lagi, terdakwa yang tak bisa lari dari kenyataan timbangan dosanya benar-benar miring.

Apa yang harus kukatakan?, Permintaan maaf dan penyesalan?, Sebuah formalitas di awal semacam “ Hai, apa kabar? Kau kelihatan cantik hari ini.”?, Begitu?. Aku bingung, aku bingung memikirkan sesuatu yang sama lalu linglung lalu memikirkannya lagi namun tetap saja bingung.

Tapi perempuan itu kemudian hanya melipat tangannya bersilang di dadanya. Ia masih melanjutkan tatapannya, masih tanpa suara, ekspresinya pun sama. Setelah aku duduk di sebelahnya, barulah ia menarik nafas panjang dan angkat bicara.

“Aku kira kamu tak akan datang.”

“Bagaimana mungkin aku tidak datang Las, lagipula aku menginap disini.”

“Bisa saja kamu beralasan sibuk atau entah apa.”

“Kamu mau aku begitu?.”

“Tidak.”

“Aku tadi juga berpikir, masih juga kau datang.”

“Ini terlalu lama Radit.”

“Aku terlalu rindu.”

Lastri tersenyum mendengarku. Ia berdiri menarik tanganku untuk keluar dari lobby hotel di jalan Tendean ini, penangguhan putusan rupanya terjadi. Taksi putih sudah menunggu, ia masuk duluan dan aku menyusul.

“Kamu tidak ingin mengatakan apa-apa?.”

“Kadang-kadang aku ingin mundur, tapi seperti yang pernah kubilang ini sudah terlanjur.”

“Ya, seperti sudah terjebak ya?.”

“Siapa lagi selain kamu yang mau sama aku.”

“Pendekatan juga butuh waktu dan biaya, malas.”

Kami tertawa di jok belakang taksi, kugenggam tangannya yang kecil dan ia bersandar dipundakku. satu bulan?  Dua bulan lalu?, Aku lupa kapan persisnya terakhir kali kupegang tangannya. Mungkin dipasir pantai Tanjung Bira. Ah tidak, dia yang menggenggam tanganku.

“Jangan diulangi lagi.”

“Ya, kamu juga”

Perempuan itu memukul pundakku dua kali, lalu kembali bersandar. Keputusan sudah dibuat, sang terdakwa diampuni.




Bersambung)

Minggu, 07 Februari 2016

Negeri Terumbu Biru - Bagian Keempat

Negeri Terumbu Biru

Oleh: Meob
Bagian Keempat

***
Satu hal yang menyatukan Cinta dan Kematian
Niscaya
Begitu juga kita

***

Ada jejak panggilan tak terjawab di ponsel, nomor kantor. Tiba-tiba perasaan bersalah menyesak dada. Pukul delapan dua puluh pagi disini, berarti pukul tujuh dua puluh di Yogyakarta. Radit sedang dikamar mandi, aku bimbang apa harus menelepon balik atau tidak. Kurasa semua pekerjaan sudah kuselesaikan, pesan-pesan sudah kutitipkan ke Ratri assistenku.

Tiba-tiba pemberitahuan email masuk berbunyi. Tiket elektronik muncul, kubaca kode bandara penerbangan: UPG – DPS, 13:30 WITA. Bali? Ada apa ini.

“Halo Ratri.”

“Pagi Bu Lastri, tadi saya telepon tidak diangkat.”

“Ada apa? kok Bali lagi?.”

“Baru saja Pak Wawan meminta saya membelikan tiket Bu Lastri untuk ke Bali siang ini. Tadi saya menelepon dulu juga hendak bertanya ada apa, Pak Wawan hanya bilang begitu dan langsung pergi soalnya Bu.”

“Coba saya telepon Pak Wawan.”

“Baik Bu, nanti callback ya Bu supaya saya siapkan dokumen yang diperlukan”

Aku tidak menjawab Ratri, kututup sambungan dan segera mencari nama Wawan di kontak. Aku tidak terlalu suka Wawan, dia kerap memberi perintah-perintah tanpa kejelasan seperti ini. Apa maksudnya aku di minta ke Bali.

“Pagi Pak Wawan, ada apa kok Bali?.”

“Sumitama komplain.”

“Lho kan Sumitama dipegang Ridwan.”

“Tapi Energindo dipegang kamu Lastri.”

“Ya untuk jaringan, tapi bukan pembangkit cadangan.”

“Ridwan tidak ada ditempat.”

“Jangan juga dilempar ke saya dong Pak. Tahun lalu kan sudah saya lepas ke Ridwan soal Bali.”

“Saya tidak punya pilihan Las. Saya percaya kamu bisa handle Sumitama. Sejak awal saya kurang percaya Ridwan.”

“Tapi Pak Wawan,”

“Tadi pagi buta Komisaris langsung menelepon saya”

Wawan memotong penolakanku yang belum usai. Direktur Sumitama adalah adik kandung Komisaris perusahaanku, Wawan tahu kami tak bisa menolak.

“Apa harus begini Pak?.”

“Maaf Lastri, tidak ada orang lain. Tadi semula saya yang mau berangkat, tapi hari ini saya harus ke Timahraya Bangka. Tolong ya Lastri.”

Aku tak menjawab Wawan, dia juga terjepit. Tapi kami paham, bahwa ini berarti jawaban “ya” tapi terpaksa.

“Ratri, bisa emailkan semua soal Energindo yang di pegang Ridwan.”

“Baik bu, tetapi kan kita tidak pegang pembangkit?.”

“Lakukan saja, minta dari assistennya Ridwan.”

“Baik Bu.”

Baru saja kututup telepon, Radit keluar dari kamar mandi. Kulihat wajahnya agak kecut, sepertinya dia mendengar sedikit suaraku menelepon tadi.

“Jam brapa?.”

“tiga belas tiga puluh, masih sempat?.”

“Mandi sana.”

Radit berjalan ke teras kamar menjerang handuk, tidak memandangku sama sekali.

“Sana cepat Las.”

“Jangan marah.”

“Tidak. Yuk cepat, nanti beli roti saja di jalan.”

Segera aku bangkit dari ranjang ke kamar mandi. Sudah cukup berbicara, aku tahu Radit kecewa tapi berusaha tidak terlihat begitu.

***

Hampir pukul sepuluh, kami sudah keluar dari Bantaeng. Radit tidak berbicara sama sekali sejak turun dari bukit-bukit Bulukumba. Aku tahu Radit sedang berusaha berkonsentrasi mengendalikan mobil yang melaju lebih kencang dari kemarin sewaktu datang kemari. Dia tidak pandai menutupi pikirannya yang kacau, ekspresinya terlihat sekali. Aku ingin meminta untuk bersikap biasa agar aku tidak terlalu merasa bersalah, tapi kurasa itu hanya akan menyiksanya.

“Dit, minum.”

“Tidak usah.”

“Ini, minumlah Dit.”

“Tidak usah!, kubilang tidak usah ya tidak usah.”

“Ya.”

Dia marah. Kalau sudah begini aku harus bisa menahan diri menunggu, nanti juga Radit bicara sendiri.

“Maaf Las, mana airnya. Tolong buka tutupnya.”

Kusuapkan botol minuman ke bibir Radit, dia minum sedikit. Kukecup pipinya kemudian, ekspresinya seperti bingung setelah itu.

“Nanti di Gowa kita belok, ambil pintas biar tidak kena macet lewat kota.”

“Aku ikut Dit.”

“Kapan acara di Surabaya? Nanti kita ketemu lagi disana.”

“Kan sudah kubilang..”

“Las, yang lembutlah.”

“Dua bulan lagi, November.”

“Oh”

“Tapi aku belum tahu, Nana bilang antara Surabaya di tempat dia atau Semarang di tempat Ruben.”

“Oh, ya nanti.”

***

Lewat pukul sebelas, gerbang batas Takalar sudah dilewati.

“Satu setengah jam lagi.”

“Berdoa semoga sampai Las”

***

Pukul tiga belas kurang, kulihat Papan petunjuk hijau bertuliskan Daya terlihat. Sudah dekat, aku ingat kemarin sewaktu keluar dari bandara. Jalan tol yang melewati kawasan industri Daya menuju kota Makassar.

Radit memandangku, berusaha tersenyum. Wajahnya jadi lucu,

“Maaf dit.”

“Tidak apa-apa, cukup senang aku sudah melihatmu dua malam.”

Aku tidak tahu bagaimana Radit bisa sedemikian tahan menghadapiku. Entah sudah amuk apa yang kulampiaskan jika kejadian ini menimpa Radit bila sedang mengunjungiku di Yogyakarta.

“Dit, tidak usah mengatar. Biar aku lari kedalam, tasku kecil kurasa dibagasi kabin saja cukup.”

“Tidak apa-apa?, Aku ingin mengantar.”

“Jangan buat ini makin berat Dit, anggap seperti biasanya. Toh, kita akan ketemu lagi dua bulan depan.”
Radit tak menjawab, ia hanya mengusap kepalaku dengan tangan kirinya. Tak terasa mataku mendung, kurasa sedikit gerimis.

“Dadah Dit.”

“Hati-hati. Kutunggu di parkir depan sampai kamu sudah dipesawat. Telepon ya?.”

Aku berlari secepatnya ke meja boarding. Pukul tiga belas lebih sepuluh, belum sempat ke meja boarding seorang petugas maskapai mendekatiku.

“Bali bu?.”

“Ya.”

“Langsung saja ke gate 3.”

Rupanya pesawat sudah menunggu, segera aku berlari menuju lantai dua. Bandara Sultan Hasanudin lebih besar dari Adi Sucipto, seingatku hanya lurus setelah eskalator. Sayup kudengar suara pengeras suara mengabarkan panggilan terakhir untuk penerbangan ke Bali.

“Ah, dapat.”

Tiketku diperiksa petugas maskapai di mulut garbarata,

“Nomor kursi tanya di pramugari ya Bu. Sudah terlambat.”

“Baik, maaf.”

Di kursi nomor tiga akhirnya aku duduk: Kursi kelas bisnis, padahal tiketku ekonomi. Kejadian biasa kalau terlambat boarding dan langsung dilarikan ke pesawat begini. Kuambil ponselku dari tas sebelum kuletakan di bagasi atas kepala. Sial, ponselku kehabisan daya.



(Bersambung)

Negeri Terumbu Biru - Bagian Ketiga

Negeri Terumbu Biru
Oleh: Meob
Bagian Ketiga

***
Anak-anak manusia: Anak-anak yang terkalahkan
Diciptakan telanjang untuk berpakaian
Untuk mencipta parang dan pasak
Bertarung melawan hari dan semak duri
Sampai matahari meminta angin memisahkan: Diantara gunung, diantara lautan
Sampai hati memenangkan pagi
Dan sirnalah segala sepi

***



“Nanti aku mati.”

“Tidak, ini sedang pasang.”

“Darimana kau tahu?.”

“Lihat disana, pasirnya tidak terlihat seperti sewaktu kita datang.” Perempuan itu memandang ke arah yang di tunjuk kekasihnya. Ia masih ragu, tapi terlihat betapa ia berupaya untuk percaya.

“Bagaimana kalau kamu duluan?.”

“Tidak masalah, tapi nanti siapa yang mengajarimu melompat?.”

“Aku bisa melihat.”

“Kamu tidak ingin melompat bersama-sama?”. Perempuan itu menggeleng,  ia tidak melihat raut kecut kekasihnya melihat penolakan itu .

“Lihat, rasakan angin berhembus ke barat. Ia akan meniupmu jauh dari tonjolan karang itu.”

“Kamu bohong, bagaimana mungkin kita tertiup angin.”

“Bukankah kita sejauh ini karena tertiup angin?”. Sepasang kekasih itu tertawa bersama kemudian. Apa pernah terpikirkan selama ini berjalan sendiri-sendiri, membentang jarak bergaris mata angin terpisah. Gelak Radit dan Lastri adalah tawa yang menerima. Mereka telah menelan waktu dan rencana yang tertiup angin empat tahun terakhir. 

“Perhatikan titik ini, disini kita menjejak lompat.”

“Disini?.”

“Ya, harus tepat disini.”

“Baik, ambil ancang-ancang dahulu kan.”

“Ya, sini. Dari sini saja, lalu lari dan melompat dari titik itu.”

“Coba.”

“Lihat aku.” Radit berlari kencang, lalu melompat dari bibir tebing karang. Menghilang dari mata kekasihnya, terbatas karang menjorok di bibir. Terdengar suara debur air di dasar tebing,

“Radit!.”

“Wuhuuuu, seru!, Ayo Lastri, lompat kemari!.”

Lastri masih sedikit ragu, matanya mengukur-ukur langkah dan tebing karang. Ia mengambil ancang-ancang, berlari lalu melompat. Sejenak nafasnya seperti lenyap, jatuh bebas di udara tanpa pijakan dan pegangan. Lalu, dunia yang lain menyambutnya. Segalanya berwarna biru berdasar putih, sama sekali baru. Dia tertegun, menggapai-gapai mencari pegangan. Lengannya tiba-tiba ditarik oleh sesuatu ke atas,

“Kamu tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa Dit, aku kaget.”

“Kamu senang?.”

“Ayo coba lagi.” Sepasang anak manusia itu berenang ke tepian, naik kembali memanjat tebing karang yang menjorok ke pantai. Entah berapa kali, tetapi sepanjang pagi mereka belajar untuk melompat.

“Las.”

“Apa?.”

“Ayo terakhir, aku lapar.”

“Sama-sama saja.” Radit tersenyum mendengar ajakan Lastri. Akhirnya kekasihnya mau melompat bersama-sama. Lebih dari itu, Lastri lah yang kemudian mengajak melompat bersama.

“Pegang tanganku.”

“Ayo hitung dit.”

“Satu, dua, tiga.” Mereka berlari bersama, lalu dalam satu detik yang sama mereka melompat ke udara.

***

Sebotol Bir murah dan Segelas tinggi Jus Mangga yang entah berapa hari menginap di kulkas, tersaji manis di atas meja kayu. Sepasang kekasih itu memilih duduk di tepi teras warung sudut jalan supaya bisa memandang lautan. Warung yang sederhana tapi cantik. Meja-meja dan kursinya terbuat dari batang kayu belahan utuh yang terkelupas alami hempasan ombak.

“Tidak apa-apa disini Las?.”

“Lebih murah disini.”

“Di restoran kapal lebih nyaman.”

“Nyaman, tapi mahal.”

“Kan, aku yang bayar.”

“Jangan sombong, lagipula bukan soal uang Dit. Disana Jusnya diberi susu kental manis, aku tidak suka.”

“Kenapa Mangga?.”

“Kenapa Bir?.”

“Kamu pahit dan membuatku pusing.”

“Kamu kecut.”

“Tapi harum dan manis.”

“Tidak ya, ditasmu saja tidak ada parfum.”

“Ke pantai tidak perlu parfum kan Las.”

“Kapan-kapan berdandanlah sedikit rapi buatku Dit.”

“Tidak ada kesempatannya.”

“Bulan depan di Surabaya, kamu datang.”

“Siapa?.” Lastri tidak segera menjawab, dia memilih menyeruput Jus dengan sedotan putih keriting lebih dulu. Kekasihnya kemudian pun turut menuang Bir kedalam gelas penuh es batu, lalu mengambil sepotong kentang goreng yang asin dari piring.

“Nana.”

“Oh Nana, menikah? Siapa suaminya?.”

“Ruben.”

“Ruben yang di Kalimantan?.”

“Berani sekali, kata Nana dia di rumahkan.”

“Batu bara sedang lesu kudengar.”

“Kamu jangan begitu.”

“Apa?.”

“Disini saja dulu-lah, sepertinya lebih bagus.”

“Jadi sekarang mulai memikirkan untuk menikah? Sama siapa?.” Radit tersenyum meminum bir dinginnya, matanya melirik pada kekasihnya yang tiba-tiba membuang muka saat ia bertanya tadi. Dia itu tahu jawabannya, ia hanya menggoda Lastri.

“Kadang kupikir aku ingin mundur.”

“Terus?.”

“Tapi ini terlalu jauh.”

“Segalanya sudah terlanjur?.”

“Ya.”

“Kamu menyesal?.”

“Tidak, kamu sendiri?.”

“Sama sekali tidak.”

“Apa kamu juga?.”

“Ya.”

“Lantas kenapa?.”

“Aku mencintaimu.” Lastri tak menjawab, Raditpun tak butuh jawaban. Dia mengenal Lastri yang sulit mengatakan hal semacam itu, dan Lastripun mengenal Radit yang tak mungkin berdusta.

***

Di warung itu, lantunan Bob Marley menenggelamkan waktu yang menggantung diantara mereka. Melebur menjadi satu dalam keramaian pengunjung. Sampai tersisa didasar gelas hati yang luluh lantak, rindu takkan mengalah.

“Biarkan aku memujimu Dit.”

“Hahaha, apa itu?.”

“Kamu lelaki pertama yang membawaku berjalan diatas terigu.”

“Jangan meremehkanku, aku bisa lebih dari itu.”

“Apa lagi memangnya?.”

“Besok, kubawa kamu melihat terumbu biru.”

“Jangan berlebihan Radit, tidak ada namanya terumbu biru.”

“Hahaha, tapi memang begitu.”

“Sudah cukup begini saja, aku senang. Jangan lebih dan lebih dan lebih, aku tidak tahu harus apa.”

“Tidak apa-apa, mumpung disini.”

“Aku takut muak.”

“Maksudmu?.”

“Ayo jalan ke pantai, terus ke hotel. Aku lelah.” Radit menuruti permintaan Lastri. Berdua mereka menuruni tangga daratan tanjung ke pantai yang memanjang.

“Seperti makan bakmi ya Las?.”

“Maksudmu Dit?.”

“Ingat dulu di Jogja? Waktu kita makan bakmi di Jalan Solo.”

“Kau nambah  dua mangkok sampai mau keluar dari hidung.”

“Iya hahaha, mangkok kedua tidak akan seenak yang pertama.”

“Minggu kemarin aku makan disana.”

“Acara apa?.”

“Habis dari Galleria Mall, mampir saja.”

“Kangen aku?.”

“Maumu kangen siapa?.”

Angin mengalir pelan ke arah mereka, sejuk mendorong ombak berhempas lembut ke pasir pantai. Lastri berhenti lalu duduk di atas tonjolan batu dekat Hotel, menarik tangan Radit memintanya duduk disampingnya.

“Apa rasanya pertama di pantai ini Dit?.”

“Membingungkan.”

“Kenapa?.”

“Karena kamu.” Radit tidak lekas melanjutkan, dia memainkan pasir di tangannya. Mengambil segenggam, mengucurkannya lagi pelan-pelan.

“Tanjung Bira mengagumkan, aku kaget sekali dulu. Pasirnya unik, putih dan terutama lembut sekali. Apalagi kemudian sia Herman mengajak snorkling dekat pulau disana. Itu pertama kalinya aku snorkling sungguhan, kaget dengan isi lautnya. Aku belum pernah seumur hidup melihat terumbu karang yang utuh dan ikan-ikannya yang cantik. Pernah snorkling  di Spermonde sana dekat site tambang, tapi terumbunya rusak kena bom.” Radit memandang ke lautan yang biru seperti kristal itu, lalu menunjuk ke arah pulau.

“Disana Lastri, lautannya bening sekali. Aku sempat memancing, lumayan Giant Trevally lima kiloan. Lucu, aku bisa melihat umpan didasar laut. Melihat jelas sekali saat ikannya datang lalu memakan umpan, seperti di kolam Koi.”

“Yang di foto itu?.”

“Iya, besarkan?.”

“Tidak seperti di tivi.”

“Haha, aku kan amatiran Las. Tapi aku suka, itu pertama kalinya aku benar-benar bertarung dengan ikan. Benar-benar menghibur.”

“Lantas kenapa bingung?.”

“Kamu tidak ada disini. Rasanya aneh bila cuma jadi cerita. Apalagi, ya aku tahu kami sibuk.”

“Maaf dit.” Lastri menggenggam tangan Radit di pasir, Radit terhenti sejenak memandang apa yang dilakukan Lastri.

“Kuduga kamu juga sama Las.”

“Ya, sedikit. Makanya lebih sering kuhabiskan waktu di kantor dan teman-temanku.”

“Sepi ya?.”

“Tidak juga, bukan kesepian yang seperti itu. Seperti hanya menghabiskan waktu, bangun pagi kerja lalu gajian.”

“Wah cepat sekali gajian.”

“Ah Radit, sebulan sekali lah. Seperti pengulangan, terus menerus sampai sering bosan.”

“Kamu galak.”

“Hehehe, ya begitulah.”

“Tidak sayang.”

“Ih, ya masih lah. Cuma, suaramu saja tidak ada orangnya. Buat apa?”

“Aku perlu meminta maaf?.” Lastri menggelengkan kepalanya, memandang Radit dan tersenyum

“Makanya aku datang.”

“Karena bosan?.”

“Sedikit. Banyaknya karena kamu sudah setia selama ini mengorbankan tabungan untuk bolak-balik Makassar Yogyakarta menemuiku. Coba, kalau ditabung sudah dapat berapa itu?.”

“Cukup untuk beristri disini.” Jawab Radit lalu tertawa saat Lastri membalasnya dengan cubitan-cubitan di bahunya.

Mereka duduk disana sampai matahari hampir terbenam. Bira bukan tempat yang bagus menikmati sunset, karena bukit di belakang pantai menutupi matahari.

“Ayo ke hotel Las. Lebih baik istirahat cukup. Besok bisa bangun pagi-pagi lihat sunrise. Dari kamar terlihat pantainya terbagi tiga warna.”

“Tadi pagi tidak.”

“Kamu kesiangan.”

“Aku tidak dibangunkan.”

“Malas mendengar suara radio rusak pagi-pagi.”

“Sialan.” Lastri mencubit-cubit lengan Radit lagi. Bersama-sama mereka menyusuri tangga dari pantai ke hotel. Tangga batu melingkar yang cantik, menerowong langsung menuju lambung kapal yang tersandar diatas tebing.

***

“Usap rambutku Lastri.”

“Oh, Radit manja sekali.”

“Tidak, aku hanya ingin merasa kamu benar-benar nyata ada disini.”



(Bersambung)

Museum Masa Depan yang Tak Pernah Ada

( setelah Baudrillard dan sebelum lupa ) Anak-anak berjalan ke dalam hutan yang disusun dari piksel dan janji manis algoritma. Pohon-pohon...