Jumat, 12 Agustus 2016

Kawin Muda Dalam Sudut Pandang Medis dan Dunia Peternakan

Beberapa hari ini buka fesbuk rasanya mumet. Ada yang ngeshare "Anak Ustad Kawin Muda: Lo kapan?" hajinguk kata saya. Terus saya scroll ke bawah, lhaa ketemu lagi "Nikah Muda Menghindari Zinah". Saya diam sejenak. Saya ingat teman-teman saya yang sudah menikah yang masih doyan zinah sana sini. Saya mikir: lha pernikahan itu dengan demikian tidak menghindarkan dari zinah dong? Lha yang sudah nikah aja bisa zinah.

Bukan maksud lari dari soal pernikahan (uhuk!) tapi saya kira upaya nalar otak yang udah malas-malasan kerja ini perlu agak di dorong sedikit biar lebih baik.

Ada banyak pandangan selain pandangan agama, salah satunya pandangan medis. Ada juga pandangan dari peternakan dan agrobisnis -- lha apa hubungannya? Ada!. Cara pandang kita soal manusia dan binatang.

Mas mbak, kalok kapan-kapan jalan ke mall. Coba jalan-jalan saja ke Gramedia. Buka sedikit buku-buku tentang ternak. Ada di rak yang "Pertanian" atau "Peternakan". Kalau ada buku "Budidaya Murai Batu" atau "Budidaya Sapi" atau kalau adanya "Budidaya Kucing Persia" boleh dibuka. Disana jelas dituliskan oleh ahlinya tentang usia-usia matang indukan yang siap dipijahkan (ikan), dipacak (anjing kucing), bahkan yang via kawin suntik (sapi). Kenapa usia tertentu? Karena kualitas anakan lebih matang, tidak berbahaya bagi indukan dan anakan, lebih sehat, daya hidupnya lebih tinggi, dll. Tentu saja penulis buku-buku yang ahli di bidang itu berpengalaman, apalagi soal bisnis: pasti untung. Tapi ini binatang, bagaimana manusia?

Saya kira kebanyakan kita sudah pernah dengar bahwa usia 12-20 tahun adalah usia perkembangan organ reproduksi. (Belum pernah dengar? Coba google aja atau konsultasi ke dokter kandungan sana). Sedangkan diatas 40 tahun dimulai proses menurunnya fungsi organ reproduksi. Karenanya kehamilan dini dan kehamilan tua tidak dianjurkan oleh medis. Kenapa? Bisa berbahaya bagi sang ibu. Mulai dari lengketnya saluran rahim, kanker serviks, kematian janin, dan juga kematian ibu. Ini dari medis.

Bagaimana? Tentu kita akan memperlakukan anak, adik,kakak,pacar,sepupu,om,tante,teman kita lebih baik dari sapi kan?

(Meob, Baru bangun tidur siang)

Kopiko Hari Ini - Berubah Ataukah Tetap?

"Gantinya ngopi" milik permen Kopiko memang diakui legendaris dan dasyat. Namun itu menjadi tantangan besar pula saat kopi dan kedai kopi sedang asyik belakangan ini.

Pertama soal presentasi. Hanya ada bungkus disana. Tidak ada jurusaji, tidak ada lawan berbincang, dan belum ada soal filosopi kopi sedasyat secangkir kopi Dewi Lestari. Kemudian kedua, variasi produk. Sejauh yang saya ketahui hanya ada produk permen kopisusu, bagaimana dengan kopikopi lain yang mulai menagih lidah penikmat kopi indonesia? Lalu ketiga, area penjualan. Ngopi di Makassar yang punya kopi susu dan kopi toraja yang keduanya legendaris itu akan berbeda dengan ngopi di Lampung dan tentu berbeda juga dengan kota-kota besar di Jawa yang ramai dengan hiruk pikuk Starbuck. Sulit rasanya sebuah produk permen kopi untuk menggantikan ngopi setidaknya dalam tiga bagian diatas.

Alih-alih berupaya menantang zaman, permen kopi Kopiko malah nampak dikhianati. Produk Kopiko Brown Coffee dan Kopiko 78*C yang masuk ke pasaran jelas-jelas menawarkan ngopi beneran. Ini agak aneh untuk menumpang ketenaran Kopiko tapi sekaligus mengkhianati "gantinya ngopi". Seolah tiga produk berbeda saling bersaing sementara merknya sama. Jadi konsumen itu disuruh ngopi beneran atau ngemut permen kopi?

Dengan tantangan zaman dan tantangan dari saudaranya sendiri nampaknya permen kopi Kopiko akan tetap "Kopiko gantinya ngopi". Originalitasnya dipertahankan. Tidak salah juga langkah ini diambil, karena berubahpun belum tentu berhasil. Namun bila langkah ini yang diambil ada baiknya untuk melakukannya sungguh-sungguh. Quality control mempertahankan originalitas itu bukan main-main. Tentang bagaimana didepan, kita saksikan saja.

(Meob, penggemar berat permen Kopiko)

Minggu, 07 Agustus 2016

Kusambut kau!

Kuhisap kau kematian!
Biar lenyap pisau berkarat
Biar lekas ruh mengasap

Kusambut kau kematian!
Anak cengeng dengan tangisan
Anak cengeng terasuk setan

Meradang Jiwa Jalang

Tiap lembar tiket menetes darah
Perjalananperjalan mencipta luka
Dimana letak perhentian?
Tidak disini, tidak juga disitu
Pulang atau pergi
Hanya perih kubagi

Oh,meradang jiwa jalang
Menggelepar di kamar remang

Kamis, 14 Juli 2016

Tua

Aku menua dalam ketakutan masa muda yang kian menjadi nyata.

Abu Kayu

Kau tahu rapuhnya abu kayu
yang masih memendam bara
Jangan kau sentuh
Jangan kau rengkuh
Nanti kau luka
Perihnya tak berharga

Luka Entah Punya Siapa

Ini luka, entah punya siapa tapi perihnya kubawa. Haruskah kucari dimana terjadi? Dibelakang sia-sia dan yang kutahu kini hanya dunia yang tak kumau.

Museum Masa Depan yang Tak Pernah Ada

( setelah Baudrillard dan sebelum lupa ) Anak-anak berjalan ke dalam hutan yang disusun dari piksel dan janji manis algoritma. Pohon-pohon...