Kamis, 04 Februari 2016

Negeri Terumbu Biru - Bagian Kedua

NEGERI TERUMBU BIRU
Oleh: Meob
Bagian Kedua
***
Taukah kamu yayi,Benar adanya rindu menusuk sampai ke kulit

Kamar mandi menipuku: Air yang segarnya sebentar saja
Juga gema suara memantul di dinding-dinding kamar

Kudengar itu yang bernama rindu
Dingin yang menggetarkan tulang sampai pada keraguan
Sumber bunyi yang tersembunyi entah dimana
Benarkan sentuhan kan  menghapusnya?
 ***

Rabu, 03 Februari 2016

Negeri Terumbu Biru - Bagian pertama

NEGERI TERUMBU BIRU
Oleh: Meob
Bagian Pertama

***
"Menembus angin, menerjang badai, tak ubah arah
Sampai kapal bersandar, hingga haluan bersambut
Kita kan menari di atas negeri berterumbu biru
Inilah janji yang kulayarkan padamu
Kau dan Aku, Kita satu"
***

Selasa, 02 Februari 2016

Nafas

Dengan satu tarikan dalam satu hembusan
Niscaya manusia melompat pada periuk takdir.
Terus terkurung terkungkung.
Terikat lidah pada air susu ibu dan basah keringat bapak.
Keringat dan mantra, ular beludak terinjak mendendam semak duri dibawah kaki.
Sampai pada pelanggan yang tak membayar tapi menagih asa sendiri
Dan tangan pengaduk menunjuk muka rasa yang dimasaknya tadi
Oh, puisi-puisi kehidupan dinyanyikan dibawah siang
Malam-malam sunyi mengalun hikayat cinta tak terperi
Sampai kelak kita terbangun sebelum fajar, terpukau pada bintang di timur jauh.
Disana sebuah pagi dimana kanak-kanak tak lagi bernyanyi
Dan manusia terlalu sedih untuk pergi

Lezzar


Edgrapet


Meeting Call


Senin, 01 Februari 2016

Rindumu Meja Berputar

Meja judi khatulistiwa memenangkan rinduku padamu.
Tentang aku yang terbunuh angka-angka pada kartu dan dadu.
Berkali nyata kugulung dalam tabung gambar: Disini roda hidup memotong semuanya.
Aku tahu bekerja bukanlah panggung untuk romansa.
Tetapi di pantai Labakkang rindu itu bersapu ombak tak terhingga horizon jauh di barat.
Mungkin pesan itu sampai,
Mungkin sang hyang mendengarmu mengaduh kelu,
Mungkin diputarlah meja itu: peluru-peluru menghadap mukaku.
Lihatlah tanganku ke udara, biarkan membayar tiket terakhirku.
Kubaca tanda tanganmu di tagihan, materai diatas janji yang diumbar ingkar.
Berilah aku waktu, hutang judi tak mau kubawa lari.
Karena inginku bersamamu sampai mati, bukan pada bias kuari mati.

Museum Masa Depan yang Tak Pernah Ada

( setelah Baudrillard dan sebelum lupa ) Anak-anak berjalan ke dalam hutan yang disusun dari piksel dan janji manis algoritma. Pohon-pohon...