Rabu, 31 Agustus 2016

Sungaiku Hilang

{Sungaiku Hilang;Oretan Kenangan Tentang Lampung}

Saat aku tiba di tanah nenek moyang ini, kucari dimana sungaiku tapi tak kutemukan. Tidak di hulu, tidak pula di hilir.

Sungai disini berair terlalu bening dan berbatu, ini semua bukan sungaiku. Sungaiku berpasir dan tak pernah bening. Sungai dimana ikan-ikan tak bersisik dengan sungut panjang berenang di dasarnya. Perenang-perenang handal dengan badan yang liat. Arus dan banjir dataran sudah biasa. Tetapi disini ikan-ikan begitu lemah. Bahkan ada yang begitu lemahnya sampai kukira diludahi saja mati.

Ikan itu dipanggil orang dengan nama Mas, entah apa yang berharga atau ini hanya tentang seorang kakak laki-laki. Akupun tak tahu, yang kutahu tentang nama seseorang hanyalah Mujair yang setelah pindah ke Sulawesi berganti nama menjadi Jabir. Tapi apalah arti sebuah nama apabila ia bisa hidup dimana saja, bahkan menjadi siapa saja seperti Mukidi. Tapi tidak dengan ikan Mas, dia tak kan bertahan hidup di sungaiku.

Lalu orang-orang malah ikut memanggilku Mas. Apakah aku selemah itu, diludahi saja mati?

Orang-orang juga malah tertawa saat kuminta mereka memanggilku Abang, katanya aku tak berwarna merah. Tapi aku tidak mengerti, yang kutahu rambutku hitam lurus dan kulitku berwarna sawo matang.

Jatuhlah air mataku, sungaiku tiada lagi dan kini orang memanggilku dengan nama sejenis ikan. Apakah aku pergi terlalu jauh dan tak mungkin kembali pada sungaiku? Ah sial, aku terlanjur berjanji pada seorang gadis untuk kembali dan bersamanya mencelupkan kaki di tepian dangkal sungaiku nanti.

Jumat, 12 Agustus 2016

Sebelum Berteriak Riba! Pada Sistem KPR

Ketika orang marah-marah soal aturan KPR setelah sekian tahun mencicil, menurutku itu bisa jadi kurangnya cari informasi sebelum ambil KPR, sedikit naif soal perbankan syariah, dan sangat naif ketika timbunan masalah itu meledak dikemudian hari.

Syariah atau tidak sebaiknya di perjelas diawal, jangan tau-tau ngamuk. Benar bahwa KPR bukan satu-satunya jalan, tapi tidak semua orang cukup kaya atau punya angelic kreditur.

Sebelum kita berteriak soal cicilan, bunga, dan lain-lain (walau pasti perih 😭). Ada baiknya melakukan langkah-langkah berikut sebelum ambil KPR:

1. Pelajari dulu apa itu KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Karena ada berbagai jenis KPR dan pokok detail dalam KPR: suku bunga bank, jangka waktu cicilan, komponen angsuran, administrasi, dan sampai tetek bengeknya yang lain.

2. Bandingkan satu bank dengan bank yang lain. Minta dan perhatikan "SIMULASI KREDIT DETAIL" sedetail-detailnya sambil tetap bandingkan satu bank dengan bank lain.

3. Konsultasi dengan teman/senior/orangtua yang telah berpengalaman dalam bidang KPR. Jangan malu! Hampir semua orang berhutang! Cari info sebanyak-banyaknya.

4. Sikap hati: Sabar dan teliti, jangan terburu-buru. Kalau gagal atau tertunda itu biasa, banyak orang bilang kalau rumah itu soal jodoh bukan sekedar pilihan.

5. Pastikan juga pengembang perumahan telah teruji dan bertanggungjawab. Tidak sedikit kasus pengembang lari, fasilitas perumahan tidak diberikan sesuai yang dijanjikan, kualitas bangunan yang kurang baik. Survey, survey, dan survey. Dalam hal semacam ini kepo itu baik!

6. Pastikan penghasilan anda mencukupi untuk hidup sambil mencicil. Kalau belum sanggup ya gapapa jangan dipaksa, nanti malah mecicil. Tapi kalau mau menggunakan tanggungan cicilan sebagai batu loncatan motivasi ya silahkan, asal konsisten.

7. Bila telah yakin dan mantap, lakukan dalam doa semoga semuanya baik-baik saja. Sok religius? Bukan! Kita cuma manusia, siapa yang tahu apakah langkah kita kedepan sesuai rencana atau tidak sementara cicilan menggelayut berat. Siapa tahu diberi Tuhan rejeki yang berlebih atau dilancarkan 😊

Semoga membantu soal KPR ini.

Sempat pula ada yang marah-marah soal Bank Syariah yang sama saja dengan Bank biasa. Namun itu adalah kekecewaan yang wajar. Kekecewaan ketika ide-ide luhur agama ditangan kapitalis tidak ubahnya senjata yang sama-sama menembak kaum lemah. Ketika ide-ide luhur agama ditangan kapitalis tidak ubahnya slogan-slogan marketing baru, brosur tipu-tipu. Jeritan ini adalah jeritan yang merasa diperdaya, dan barangkali benar. Maka..tidak ada salahnya pula mempertimbangkan ide-ide kiri macam koperasi.

Tanpa solusi maka hal macam riba seperti ini akan tetap terulang dan terulang seperti lingkaran setan. Bahkan kita ikut-ikutan mencari riba dari oranglain. Saya sendiripun terjebak, dan saya akui ini semua mencekik. Eh, barangkali ada jawaban di tikungan sebelah kiri.

Berhentilah Bermimpi

"Ketika mimpimu yang begitu indah tak pernah terwujud..ya sudahlah.."

Karena ada banyak hal kawan, bukan soal kerja keras atau semangat atau target atau strategi. Barangkali yang disebut takdir, atau arus semesta. Sesuatu sesederhana ikan yang tak mungkin memanjat pohon kelapa dengan siripnya. Titik dimana doa hanyalah sia-sia belaka.

Beristirahatlah dan tersenyumlah, itu takkan terwujud.

Kawin Muda Dalam Sudut Pandang Medis dan Dunia Peternakan

Beberapa hari ini buka fesbuk rasanya mumet. Ada yang ngeshare "Anak Ustad Kawin Muda: Lo kapan?" hajinguk kata saya. Terus saya scroll ke bawah, lhaa ketemu lagi "Nikah Muda Menghindari Zinah". Saya diam sejenak. Saya ingat teman-teman saya yang sudah menikah yang masih doyan zinah sana sini. Saya mikir: lha pernikahan itu dengan demikian tidak menghindarkan dari zinah dong? Lha yang sudah nikah aja bisa zinah.

Bukan maksud lari dari soal pernikahan (uhuk!) tapi saya kira upaya nalar otak yang udah malas-malasan kerja ini perlu agak di dorong sedikit biar lebih baik.

Ada banyak pandangan selain pandangan agama, salah satunya pandangan medis. Ada juga pandangan dari peternakan dan agrobisnis -- lha apa hubungannya? Ada!. Cara pandang kita soal manusia dan binatang.

Mas mbak, kalok kapan-kapan jalan ke mall. Coba jalan-jalan saja ke Gramedia. Buka sedikit buku-buku tentang ternak. Ada di rak yang "Pertanian" atau "Peternakan". Kalau ada buku "Budidaya Murai Batu" atau "Budidaya Sapi" atau kalau adanya "Budidaya Kucing Persia" boleh dibuka. Disana jelas dituliskan oleh ahlinya tentang usia-usia matang indukan yang siap dipijahkan (ikan), dipacak (anjing kucing), bahkan yang via kawin suntik (sapi). Kenapa usia tertentu? Karena kualitas anakan lebih matang, tidak berbahaya bagi indukan dan anakan, lebih sehat, daya hidupnya lebih tinggi, dll. Tentu saja penulis buku-buku yang ahli di bidang itu berpengalaman, apalagi soal bisnis: pasti untung. Tapi ini binatang, bagaimana manusia?

Saya kira kebanyakan kita sudah pernah dengar bahwa usia 12-20 tahun adalah usia perkembangan organ reproduksi. (Belum pernah dengar? Coba google aja atau konsultasi ke dokter kandungan sana). Sedangkan diatas 40 tahun dimulai proses menurunnya fungsi organ reproduksi. Karenanya kehamilan dini dan kehamilan tua tidak dianjurkan oleh medis. Kenapa? Bisa berbahaya bagi sang ibu. Mulai dari lengketnya saluran rahim, kanker serviks, kematian janin, dan juga kematian ibu. Ini dari medis.

Bagaimana? Tentu kita akan memperlakukan anak, adik,kakak,pacar,sepupu,om,tante,teman kita lebih baik dari sapi kan?

(Meob, Baru bangun tidur siang)

Kopiko Hari Ini - Berubah Ataukah Tetap?

"Gantinya ngopi" milik permen Kopiko memang diakui legendaris dan dasyat. Namun itu menjadi tantangan besar pula saat kopi dan kedai kopi sedang asyik belakangan ini.

Pertama soal presentasi. Hanya ada bungkus disana. Tidak ada jurusaji, tidak ada lawan berbincang, dan belum ada soal filosopi kopi sedasyat secangkir kopi Dewi Lestari. Kemudian kedua, variasi produk. Sejauh yang saya ketahui hanya ada produk permen kopisusu, bagaimana dengan kopikopi lain yang mulai menagih lidah penikmat kopi indonesia? Lalu ketiga, area penjualan. Ngopi di Makassar yang punya kopi susu dan kopi toraja yang keduanya legendaris itu akan berbeda dengan ngopi di Lampung dan tentu berbeda juga dengan kota-kota besar di Jawa yang ramai dengan hiruk pikuk Starbuck. Sulit rasanya sebuah produk permen kopi untuk menggantikan ngopi setidaknya dalam tiga bagian diatas.

Alih-alih berupaya menantang zaman, permen kopi Kopiko malah nampak dikhianati. Produk Kopiko Brown Coffee dan Kopiko 78*C yang masuk ke pasaran jelas-jelas menawarkan ngopi beneran. Ini agak aneh untuk menumpang ketenaran Kopiko tapi sekaligus mengkhianati "gantinya ngopi". Seolah tiga produk berbeda saling bersaing sementara merknya sama. Jadi konsumen itu disuruh ngopi beneran atau ngemut permen kopi?

Dengan tantangan zaman dan tantangan dari saudaranya sendiri nampaknya permen kopi Kopiko akan tetap "Kopiko gantinya ngopi". Originalitasnya dipertahankan. Tidak salah juga langkah ini diambil, karena berubahpun belum tentu berhasil. Namun bila langkah ini yang diambil ada baiknya untuk melakukannya sungguh-sungguh. Quality control mempertahankan originalitas itu bukan main-main. Tentang bagaimana didepan, kita saksikan saja.

(Meob, penggemar berat permen Kopiko)

Minggu, 07 Agustus 2016

Kusambut kau!

Kuhisap kau kematian!
Biar lenyap pisau berkarat
Biar lekas ruh mengasap

Kusambut kau kematian!
Anak cengeng dengan tangisan
Anak cengeng terasuk setan

Meradang Jiwa Jalang

Tiap lembar tiket menetes darah
Perjalananperjalan mencipta luka
Dimana letak perhentian?
Tidak disini, tidak juga disitu
Pulang atau pergi
Hanya perih kubagi

Oh,meradang jiwa jalang
Menggelepar di kamar remang

Museum Masa Depan yang Tak Pernah Ada

( setelah Baudrillard dan sebelum lupa ) Anak-anak berjalan ke dalam hutan yang disusun dari piksel dan janji manis algoritma. Pohon-pohon...