Sabtu, 30 Januari 2016

Kerasam Si Ulu Hati

Getar tak terpaham
Getar si ulu hati
Mengetuk pintuku
Salam dan permisi
Apakah dia?
Akankah bertemu?
Tak pernah pergi
Tak pernah datang
Bersangka dahan tertiup angin
Bisikanmu ternafikkan
Masihkah ada?
Masihkah bernyala?
Kekosongan terhisap
Kerasam yang tertelan
Menari gilingan biji-biji pagi
Wangi kan tersaji dalam kopi
Akankah terkatakan?
Akankah bersahutan?
Tiga januari
Getar itu terhenti


Jumat, 29 Januari 2016

Kabar-kabar Datang Terlambat

Lucu sekali, hari ini aku diberi tahu tentang natal yang datang terlambat. Tidak, bukan apa-apa. Hanya saja mungkin karena disana tak ada kaus kaki tergantung. Jadi kuberikan alamatmu kembali (alamat yang kukira benar). Semoga sampai padamu, meski kulupa apa itu.

Kamis, 28 Januari 2016

Anak Lelaki, Kuda, dan Matahari

Membakar api membakar hidup
Mendaki gunung tak berpuncak
Bermula mimpi kuda-kuda perang

A Little Drummer Boy's Prayer


Dear God
You said: "if i want, i could turn a rock into

Tentang Orang Yang Kau Cari

"Tak kan kau temukan mayat gadis penjual korek api yang mati kelaparan di trotoar. Tetapi bila kau mau tahu: ada seorang anak laki-laki yang

Kubantu Merobeknya

Kerongkongan itu luka, katamu kau robek sendiri. Aku ragu, kau cukup berani, tapi kemarin dulu pisaumu salah. Alih-alih mati, jahitan yang kau terima malah makin menyakitkanmu. Ingatkan?

Getih Kebun Firdausi

Getih Kebun Firdausi
------------------------

Mengamuk mata parang
Cacahan luka
Belati kayu pada batang

Induk Busur dan Anak Panahnya (Kedua)

Seperti Induk Busur dan Anak Panahnya, demikianlah kita nak. Tergenggam tak berdaya dalam telapak masyarakat kita yang sakit ini. Walau letih kau memaki nak,

Kakinya Habis Dimakan Rayap

Judul: Kakinya Habis Dimakan Rayap
Oleh: YHardita
_____________________________
Tadi sore kudengar lagi tetanggaku bertengkar, suara si Istri terdengar lebih dominan. Bukan soal perempuan yang katanya bertakdir cerewet, kurasa itu ledakan adonan letih dan kesepian. Suaminya memang keterlaluan,

Kantin Berjendela Kayu


"Kantin berjendela kayu"


Pagi dan Keraguan

Aku mengorek lagi kotak sampah untuk sekedar melihat kartu nama itu. Foto disudut, nama, dan garis-garis alamat. Kudengar butuh waktu beberapa tahun sampai kertas terurai lenyap, namun bagaimana dengan lekatan kenangan?.

Mantra Tani (Kedua)

MANTRA TANI



Apa yang pasti? Kukatakan sekali lagi: keringat dan mantra
Segala larut mengental bersabung dalam seruling

Teka-Teki Pertunjukan

Teka-Teki Pertunjukan
YHardita
____________________
Apa yang terjadi?.
Sebuah topeng yang rusak.
Kenapa rusak?.
Topeng dibuat untuk tidak cepat rusak, sesuatu yang membuatnya rusak.

Sesuatu?.
Ya.
Manusia?.
Salah satunya.
Maksudmu?.
Topeng dirusak untuk sebuah alasan.
Alasan apa?.
Tergantung siapa pelakunya dan apa pesannya.
Menurutmu siapa?.
Kau terlalu cepat.
Aku harus mulai dari mana?.
Dari topeng yang rusak ini.
Kenapa begitu?.
Dialah korban, jangan melupakan korban dalam kejadian.
Identifikasi?.
Ya tentu saja, tapi kadang kita tidak perlu melakukannya mendalam.
Kenapa?.
Ini hanya sebuah topeng, terlalu biasa.
Hei jangan meremehkan, siapa tahu ada jejak!.
Inilah jejaknya, topeng ini topeng biasa.
Maksudmu biasa?.
Topeng ini aku pernah melihat sebelumnya di toko grosir. Topeng plastik, suatu produksi massal. Pabrikan.
Ada sesuatu tentang hal itu?.
Topeng biasa.
Sebentar, tadi kau sebut ini korban?.
Ya.
Bukankah jangan terlalu cepat?.
Pada dasarnya dia korban.
Mengapa begitu?.
Karena dia topeng biasa, aku lelah mengatakannya berulang kali.
Kau yang berputar-putar, katakan dengan jelas!.
Topeng ini topeng biasa, ia dibuat untuk diperjual-belikan. Seperti yang kukatakan tadi, pabrikan dan toko grosir - suatu keuntungan. Kau paham?.
Lanjutkan.
Bukan sesuatu yang spesial, bukan topeng yang dibuat khusus untuk menjadi satu-satunya didunia.
Maksudmu seni?.
Aku tak hendak maju pada suatu diskursus, meski seperti yang kita tahu seni dan keuntungan. Ah, aku tak ingin melanjutkan soal itu.
Lantas?.
Produksi masal yang digunakan. Ya nampaknya demikian, barang pabrikan yang rusak: Dirusak untuk menjadi rusak.
Sebuah pesan?.
Aku tidak mengerti, seharusnya lebih dari ini.
Apa maksudmu?.
Topeng pabrikan pada dasarnya telah rusak dari semenjak perencanaan produksi dimulai, dialah korban. Merusak sesuatu yang hakikatnya sudah rusak tidak ada gunanya. Ini menunjuk pada sebuah nafsu dan pelampiasan.
Tapi ini benar-benar menarik perhatian.
Ya, tadi sudah kukatan: produksi massal dan keuntungan. Suatu teka-teki pertunjukan.
Sebuah rahasia?.
Ya, topeng rusak yang rusak. Tidakkah kau bertanya kenapa tadi kukatakan seharusnya lebih dari ini?.
Ada yang lebih berharga?.
Ya.
Tetapi tidak ditampilkan?.
Ya.
Kenapa?.
Lebih baik tidak usah dilanjutkan.






Tentang Beberapa Hal (Satu)

Tentang beberapa hal:
/Sopan dan Jujur bukanlah kata saling berlawan (oposite). Tidak sopan bukan berarti jujur, demikian sebaliknya sopan bukan berarti

Tentang Wakil Rakyat, Kampus, dan LGBT

Dia bicara moral yakni moralnya sendiri: moralnya yang ada di selangkangannya. Maka saya kira kepalanya ada diselangkangan (lebih baik udang dengan kotoran dikepala yang innocent). Karena otaknya di selangkangan, dia bicara dengan selangkangan tentang selangkangan dan tentang hal-hal berkenaan selangkangan.
Orang seperti dia membawa kampus masuk pada perkara selangkangan, kelak dunia pendidikan diajak bersandar pada selangkangan. Satu fakultas akan tercipta: "Selangangkanologi". Bidang minatnya pada selangkangan, hukum selangkangan, klasifikasi selangkangan, statistik selangkangan, ilmu tafsir selangkangan, dan sastra selangkangan. Ujian masuk kampus adalah tes selangkangan, dan kelulusanpun di uji dari selangkangan oleh sekelompok pengajar selangkangan. Kelak sarjana yang lulus adalah sarjana selangkangan, pencipta selangkangan, karyawan korporasi selangkangan, politikus selangkangan, orang tua selangkangan yang melahirkan anak-anak selangkangan.
Bangsa ini kelak menjadi bangsa selangkangan, bekerja untuk selangkangan, makan untuk selangkangan, korupsi untuk selangkangan. Bukankah mudah menipu orang yang hanya berpikir tentang selangkangan? Beri saja selangkangan maka dia akan lupa segalanya. Atau ceritakan tentang surga selangkangan, maka ia akan taat dan beriman karena selangkangan dengan selangkangan.
Lucunya salah satu Universtas yang membawa nama bangsa ini di nama besarnya menunjukan minat pada selangkangan dengan mengambil keputusan berdasarkan selangkangan. Saya kira lebih baik nama nama Indonesia diubah menjadi selangkangan.
Tapi saya berharap itu semua tidak terjadi.

(Sebuah tanggapan pada pernyataan Ketua MPR dan Menteri Riset dan Teknologi yang melarang LGBT masuk kampus sekitaran Januari 2016)



Cerita Biasa Anak Teologi

Suatu saat di Semarang aku dikenalkan kekasih hati pada teman-teman kantornya. Seperti biasa, aku (kita) terlatih basa basi. Tapi tidak selalu beruntung.

Yunus (Versi Kesekian)

"Saat ini saya berada di Tarsis, bukan karena melarikan diri. Calo di pelabuhan menyesatkan saya pada kapal yang salah.

Senin, 18 Januari 2016

Tidak Benar-benar Punya Pilihan Selain Bahagia

Tadi pagi baca pesan gambar yang dalam bahasa bunyinya seperti ini:

"Saya menyadari kenapa saya tersesat: Bukan karena saya tidak memiliki peta tapi karena saya tidak memiliki tujuan"

Kemudian sesuatu yang sudah seringkali muncul soal tujuan dalam pikiran muncul lagi begitu saja,

"Apa yang saya inginkan?,"

Sebenarnya lebih tepat,

"Apa yang "saya" inginkan?,"

Seolah-olah kita benar-benar punya pilihan. Namun kita juga mengenal apa yang disebut dengan pertimbangan, seketika itu juga kita tahu bahwa kita tidak benar-benar punya pilihan. Kita semua sebenarnya tersesat, hanya sadar atau tidak.

Kita bisa berpanjang-panjang soal itu, tapi tidak dapat dilupakan bahwa dalam titik awal kehidupan pun manusia tidak punya pilihan: apa ia dapat memilih untuk dapat dilahir kan atau tidak?.

Ini semua berwarna kelabu, seperti hari-hari di musim penghujan. Tapi, ada banyak kembang-kembang tumbuh dalam perjalanan ini. Segala yang disebut: Indah, Berharga, Gairah, Cinta, dan lain sebagainya. Seperti petualang yang terkagum pada sebatang kembang tadi, kita menemukan pilihan-pilihan kecil kita sendiri.

Ketersesatan bersama ini pun membawa kita pada tempat-tempat tidak terduga, pertemuan-pertemuan, dan segala yang lain dalam kotak-kotak kado menanti dibuka. Kita tidak benar-benar punya pilihan selain membukanya. Seperti dialog dalam film yang amat sering muncul:

X: "Apa aku harus membukanya?"

Y: "Bukalah, kamu tidak punya pilihan lain"

Oke, lantas terus apa?.

Kesadaran, kesadaran bahwa kita tersesat. Tanpa kesadaran kita adalah mesin yang tidak pernah tahu: kita punya peta kemampuan untuk menanggung derita dan kita juga tidak benar-benar punya pilihan selain berbahagia.

_______________
Bertumbuh dewasa itu menyakitkan ya men, layaklah kelak dihari tua kita akan menangisi masa muda.

Tulisan ringan untuk Pdt. Barmen Brevis L.

Senin, 11 Januari 2016

Larut Dalam Laut

Kulihat langit berubah pecahan-pecahan kaca biru hitam. Bergerak terlalu cepat cahaya berkejaran semakin jauh semakin jauh. Dimana aku? disini asin, dingin, dan gelap. Seperti tak berbatas, kulihat mahluk telanjang dan melayang-layang. Besar dan kecil, mereka berkejaran. Aku mengantuk, mataku menjadi berat. Gelap, kudengar suara yang merdu seakan mengiring tidurku. Inikah kisah kejatuhan itu?


Gatrandis babel ziggurat edenal
Emustolronzen fine el balal zillz


Sejenak aku merasa tenang tapi dadaku mendadak sakit. Sakit sekali, aku tak tahan menahan sakitnya. Seperti kanak-kanak aku bergelung: meringkuk, melayang menangis, aku menggigil karena sakit. Tiba-tiba hilang dan menjadi ringan saat suatu tirai cahaya turun menyilaukan. Darimana asalnya? Apakah cinta memanggilku pulang? Mengapa? Bukankah ia pula yang telah mencampakkanku pada lautan ini? Jangan kau rayu lagi, aku tak menuju padamu. Tapi disana, dibawah sana negeri para duyung. Pergilah sayang, jangan kembali lagi. Aku mau tidur,  biar kudengar suara itu kembali bernyanyi dalam kepalaku.


Gatrandis babel ziggurat edenal
Emustolronzen fine el zillz


Nyanyikanlah terus, buai aku dalam lulabi, usap kepalaku mesra. Kekasihku, dekaplah aku di antara buah dadamu. Segala gelap sempurna tapi aku dapat memandangmu. Duhai putri dalam impian, cantikmu sempurna benar. Teruslah nyanyikan nada-nada sebening kristal, aku ikut aku turut. Bimbing aku menuju maut. Jatuh jauh jatuh jauh larut sempurna dalam rahim laut.


Gatrandis babel ziggurat edenal
Emustolronzen fine el balal zillz
Gatrandis babel ziggurat edenal
Emustolronzen fine el zillz


Kupejamkan mataku dalam lantunan itu, lalu semuanya menjadi sunyi.



Minggu, 10 Januari 2016

Kepodang Jantan di Tepian



Lalu Kepodang jantan itu kembali ke tepian air, mematuk lubang-lubang cacing sendirian. Melompat kesana-kemari, meninggalkan jejaknya sendiri diatas lumpur. Dahan pepohonan di barat air sunyi, hanya ilalang-ilalang tua bersebar tak keruan. Kepala kepodang jantan bergerak-gerak memandangi, ia tak mengerti. Karena naluri yang membawanya kemari, bukan kenangan.

Dibawah Air


Selasa, 05 Januari 2016

Epiphani

Minggu ini adalah minggu Epiphani dalam penanggalan gerejawi. Hari-hari memperingati datangnya para Majus dari Timur menemui bayi Yesus. Apa yang mereka bawa: Mas, mur, dan kemenyan, hadiah legendaris yang dikisahkan turun-temurun dalam tradisi gereja. Saya yakin anak-anak sekolah minggu pasti khatam dalam hal ini. Tapi perjalanan mereka sampai pada Yesus bagi saya masih menjadi misteri. Sayang hati ini terlanjur mencipta birai penghalang untuk membaca lagi.



Senin, 04 Januari 2016

Istana Pasir Kaleng Kenangan

Anak kecil itu pergi dengan istana pasirnya, ia mencari seorang pangeran untuk menghuni tembok-tembok itu. Di kota dagang ini semuanya ada, tapi apa yang ia cari sesuatu yang tak bisa dibeli.

"Samudra terlalu lebar, aku bosan bermain ombak. Datang dan pergi sesuka hati, aku bosan"

Sepertinya dongeng semalam membakar hatinya; Dahulu kala seorang Laksamana dari daratan Naga mendarat di utara, membawa guci-guci ajaib dan pangeran tampan dari jauh. Selembar tikar niscaya bergulung terbuka menghampar asa, ia bertanya "dimana utara itu?"
"Disana, sisi yang lain dari arga paku Jawa" ia memandang ke mana ujung jari menunjuk.
"Jauh?"
"Menurutmu?"
"Ya"

Ia benar-benar pergi, juga dengan seikat kaleng kenangan berkelontang di punggung. Dongengnya belum usai, potongan itu terlanjur tertidur dalam harinya. Ada lembar yang belum ia dengar; luka, bilur-bilur terlanjur yang mungkin takkan membiarkannya kembali.




Arti

Ada yang mengatakan bahwa arti kehadiran seseorang hanya dapat diketahui setelah kepergiannya. Bagiku sendiri kepergian itulah yang kini lebih memiliki arti. Sederhana sekali, aku harus berhenti.

Kopi di gelas kedua hanya menyisakan lumpur hitam di tepian dasar. Aku belum ingin tidur, aku menunggu. Menunggu yang entah apa. Di layar komputer dan dilayar ponsel aksara menari-nari, tapi tidak satupun. Tidak satupun sampai jam dua pagi, tapi dia tak pernah datang lagi. Segala nampak merupa kesia-siaan dengan dosis yang tepat : Ekstase halus dan lembut, menjagaku tetap sadar dan tetap lapar.





Empat Dengkul


Minggu, 03 Januari 2016

Analisa Tulisan

Analisa Tulisan
Study By: Allen Ross
From the Series:
Penelitian Puisi

Pendahuluan
Analisa tulisan dari teks telah menjadi perhatian utama seluruh pendekatan dalam mempelajari Alkitab, dimulai dengan Pendekatan Analisa Tulisan (juga dikenal sebagai Documentary Hypothesis) sampai kepada

Menjelang Desember

Pagi yang kuning memaksa masuk dari celah tirai selimut gari-garis. Mungkin dia kecewa setelah masuk, sebuah kamar berantakan dengan setumpuk pakaian kotor disudut. Akupun tidak suka dengan kamarku, lantai marmer krem kekuningan dengan cat dinding yang juga krem  kekuningan. Semuanya nampak berdebu lengket – sebenarnya memang berdebu lengket. Tapi malam tadi, malam yang lebih tidak aku sukai: seseorang pergi.

Tiga Januari Dinihari

Tiga Januari dinihari, kuhapus namamu dari mimpiku. Kotak sampah yang tak pantas, di sudut layar dalam satu putusan. Mungkin tempat yang sama untukku di sana, di dalam hatimu.


Lalu gadis itu mengelus rambutku seperti ibu. "Tidur sayang" bisik lembut menyusup paru-paruku. Bunga-bunga bermekaran dan segalanya ringan. Aku terlalu mengantuk, bangunkan aku bila pagiku telah menjelang.






Merak


Kebongce


Capricorn


Sabtu, 02 Januari 2016

Kita Tidak Pernah

Pagi itu berwarna biru, sedikit gelap karena kantuk yang masih menggantung di mataku. Dingin udara terasa,mungkin kopi Toraja hangat dan donat gula aren bisa menjadi pembuka sempurna pagi ini setelah menunggu semalaman. Kau tak membalas pesanku, tak juga mengangkat panggilan teleponku.

"Kalau ingin pergi kenapa tak mengatakan apa-apa" gumamku dalam hati.

Selaput tipis yang entah apa selalu menahan hingga banyak hal aku gumamkan dalam hati saja, tak mampu untuk keluar. Entah apa itu, apakah itu zona aman ataukah sabuk batas perlindungan suci dari Tuhan. 
Selaput yang angkuh, keangkuhan yang kubanggakan. Lucu sekali, terlalu tragis untuk ditangisi layak untuk ditertawakan:  bahkan aku tak bisa pergi dari sini.

Kurungan tebing-tebing batu yang tak habis-habis menguras keringat penambang mencari makan. Tak lagi selaput, tapi batas yang terlalu keras serupa harga tiket pesawat untuk menemuimu yang membuatku berpikir dua kali.

"Win, laporan produksi triwulan kemarin sudah selesai?"

Tiba-tiba bosku sudah berdiri didepanku, menampar lamunan yang dari tadi hanya membalik-balik kertas. Entah mencari apa, tidak mungkin dia ada di atas mejaku.

"Win?" bosku memanggil lagi,

"Sudah dari kemarin lusa, sudah saya email kan pak ke bapak direktur juga" jawabku dengan nada yang ku santai-santaikan.

"Ok, kamu baik-baik saja win? Ada apa seperti ada sesuatu?"

Bosku ini memang baik, terlalu baik sampai membuat kawan kerja lain cemburu atas perhatiannya padaku. Kebaikan yang menjeratku lebih lagi, kakiku terikat jerat sementara terkurung dalam lengkung tebing batu. Tidak ada kurungan yang lebih sempurna lagi, segalanya menjelma selaput berlapis yang menyesakkan dada.

"Kemarin saya sudah bicara dengan bapak direktur, kamu bisa pulang paling cepat sesudah natal" dia melanjutkan lagi, jawab yang tak kuinginkan.

"Terimakasih pak, saya akan selesaikan semua" jawab basa-basi pada sebuah janji yang tak terbatas waktu.

"Kapan, Januari? Maret? Agustus? Tahun depan?" lagi-lagi aku bergumam.

Bosku memandangku sejenak seolah mendengar isi hatiku lalu pergi.

***


"Sudah ada keputusan"

"Apa?"

"Paling cepat Desember"

"Kamu tidak apa-apa?"

Aku terdiam, aku tersenyum. Inilah hati yang bening cerah membentang putih lembut biru laut pantai Bulukumba. Selangkah kau masuk, atol menanti kedalaman hati yang mengundangmu semakin dalam. Sesuatu yang tak pernah kau tunjukan, namun setia dibuka untukku olehnya.

"Tidak apa-apa, hanya mulai betah"

"Semangat ya sayang, nanti kita jalan-jalan disini"

Perempuan itu tak lelah menunjuk sinar mentari di ujung badai. Tangannya yang kurus kecil tergetar sekuat-kuatnya melayangkan arah, untukku. Lelaki manja yang tak henti membuatnya menangis. Kemarin malam kita bicara dalam pesan, bersitan-bersitan rindu yang mencoba realistis. Seperti burung yang mencoba berjalan diatas tanah, dan kelelahan karena tercipta bukan untuk bumi.

"Hanya terlalu lama jauh"

"Empat tahun, tidak terasa"

"Kamu berubah tidak antusias seperti dulu"

Dia melenguh cemberut, wajah manja yang hanya ingin dirayu. Empat tahun bisa berarti banyak, namun bisa juga tidak berarti apa-apa. Aku malu, pada cintanya yang tak berubah.

"Aku lebih jinak"

"Maksudnya?"

"Kita dulu bertemu saat aku tengah menantang hari, mencoba memutar takdir"

"Hahahaha"

Siang ini udara dingin menggigit, tubuh lelah yang kurang tidur. Terik matahari tak menghangatkan, hanya membuat sakit kepala. Urat yang berdenyut dalam tengkorak, sakit yang berpindah dari hati yang sekarat. Kertas-kertas di meja menjadi puisi yang membosankan.

"Tak pantaskah aku?" sebuah gumam yang biasa. Selaput yang mulai aku tak suka menahanku, tapi mungkin. Entahlah.

Kuperiksa ponselku, kamu belum membalas pesanku. Kemarin dulu katamu sibuk dan banyak prioritas yang lebih penting daripada aku yang tak jelas. Ingin kuhujam-hujam wajahmu dengan tinju, tapi tak mungkin sampai.

Kita tak pernah bertemu.


x

Carita Natal : Serangkai Kertas


Museum Masa Depan yang Tak Pernah Ada

( setelah Baudrillard dan sebelum lupa ) Anak-anak berjalan ke dalam hutan yang disusun dari piksel dan janji manis algoritma. Pohon-pohon...